Dua Hari atau Sehari Sebelum Wafat
Pada hari Sabtu atau Ahad, Nabi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merasakan sakitnya agak ringan. Kemudian keluar dipapah oleh dua orang laki-laki untuk shalat Zhuhur, sementara Abu Bakr mengimami shalat orang-orang. Ketika melihat beliau, Abu Bakr hendak mundur, namun beliau memberi isyarat agar tidak mundur. Beliau berkata kepada dua orang yang memapahnya, “Dudukkan aku di sampingnya.” Keduanya kemudian mendudukkan beliau di sebelah kiri Abu Bakr, lalu Abu Bakr mengikuti shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan memperdengarkan takbir kepada orang-orang. (Shahihul Bukhari I:98,99)
Sehari Sebelum Wafat
Pada hari Ahad, sehari sebelum wafat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerdekakan budak-budak lelakinya, menshadaqahkan tujuh dinar dari harta yang dimilikinya, dan menghibahkan senjata-senjatanya kepada kaum Muslimin. Pada malam itu, Aisyah meminjam minyak lampu dari tetangganya, sementara baju besi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam digadaikan kepada orang Yahudi senilai tiga puluh sha’ gandum
Hari Terakhir Kehidupan Rasulullah
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa pada hari Senin, ketika kaum muslimin sedang melaksanakan shalat Shubuh –sementara Abu Bakr sedang mengimami mereka — Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menemui mereka, tetapi hanya menyingkap tabir kamar Aisyah dan memperhatikan mereka yang sedang berada di shaf-shaf shalat. Kemudian, beliau tersenyum. Abu Bakr mundur hendak berdiri di shaf , karena dia mengira Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak keluar untuk shalat. Selanjutnya Anas menuturkan bahwa kaum Muslimin hamper terganggu di dalam shalat mereka, karena bergembira dengan keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, beliau memberikan isyarat dengan tangan beliau agar mereka menyelesaikan shalat. Kemudian, beliau masuk kamar dan menurunkan tabir. (Shahihul Bukhari II:640)
Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mendapatkan waktu shalat lagi.
Ketika waktu dluha hamper habis, Nabi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil Fathimah, lalu membisikkan sesuatu kepadanya, dan Fathimah menangis. Kemudian memanggilnya lagi dan membisikkan sesuatu kepadanya, Lalu Fathimah tersenyum. Aisyah berkata, “Setelah itu, kami bertanya kepada Fathimah tentang hal tersebut. Dia menjawab, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membisiki aku bahwa beliau akan wafat, lalu aku menangis. Kemudian, beliau membisiki aku lagi dan mengabarkan bahwa aku adalah orang pertama di antara anggota keluarga beliau yang akan menyusul beliau. Aku pun tersenyum. (Shahihul Bukhari II:638)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengabarkan kepada Fathimah bahwa dia adalah pemimpin kaum wanita semesta alam. (Rahmatan lil’Alamin I:28)
Fathimah melihat penderitaan berat yang dirasakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga dia berkata, “Alangkah berat penderitaan Ayah!” Tetapi, beliau menjawab “Sesudah hari ini, ayahmu tidak akan menderita lagi. (Shahihul Bukhari II:641)
Beliau memanggil Hasan dan Husain, lalu mencium keduanya, dan berpesan agar bersikap baik kepada keduanya. Beliau juga memanggil istri-istri beliau, lalu beliau meberi nasihat dan peringatan kepada mereka.
Sakit beliau semakin parah, dan pengaruh racun yang pernah beliau makan (dari daging yang disuguhkan oleh wanita Yahudi) ketika di Khaibar muncul, sampai-sampai beliau berkata, “Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang telah kumakan ketika di Khaibar. Sekarang saatnya aku merasakan terputusnya urat nadiku karena racun tersebut. (Shahihul Bukhari II:637)
Beliau juga memberi nasihat kepada orang-orang, “(Perhatikanlah) Shalat; dan budak-budak yang kalian miliki!” Beliau menyampaikan wasiat ini hingga beberapa kali. (Shahihul Bukhari II:637)
Saat-saat Terakhir
Tanda-tanda datangnya ajal mulai nampak. Aisyah menyandarkan tubuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke pangkuannya. Dia berkata :
‘Sesungguhnya di antara nikmat Allah yang dikaruniakan kepadaku adalah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat di rumahku, pada hari giliranku, dan dipangkuanku, serta Allah menyatukan antara ludahku dan ludah beliau saat beliau wafat. Ketika aku sedang memangku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abdur Rahman bin Abu Bakr masuk dan di tangannya ada siwak. Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memandanginya, sehingga aku mengerti bahwa beliau menginginkan siwak. Aku bertanya, ‘Kuambilkan siwak itu untukmu ?’ Beliau memberikan isyarat ‘ya’ dengan kepala, lalu kuambilkan siwak itu untuk beliau. Rupanya siwak itu terasa keras bagi beliau, lalu kukatakan, ‘Kulunakkan siwak ini untumu?’ Beliau memberi isyarat “ya” lalu kulunakkan siwak itu. Setelah itu aku menyikat gigi beliau dengan sebaik-baiknya dengan siwak itu. Sementara itu, di hadapan beliau ada bejana yang berisi air, Beliau memasukkan kedua tangannya ke dalam air itu, lalu mengusapkan ke wajah beliau seraya berkata, ‘La ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu ada sekaratnya.’ (shahihul Bukhari II:640)
Seusai bersiwak, beliau mengangkat kedua tangannya atau jarinya-jarinya, mengarahkan pandangan ke langit-langit, dan kedua bibirnya bergerak-gerak. Aisyah mendengarkan apa yang beliau katakana itu, beliau berkata:
“Ya Allah ampunilah aku; rahmatilah aku; dan pertemukanlah aku dengan Kekasih Yang Maha Tinggi. Ya Allah, Kekasih Yang Maha Tinggi” (ad-Darimi; Misykatul Mashabih, II:547)
Beliau mengulang kalimat terakhir tersebut sampai tiga kali lalu tangan beliau lunglai dan beliau kembali kepada Kekasih Yang Maha Tinggi. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Peristiwa ini terjadi ketika waktu dhuha sedang memanas, yaitu pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal Tahun 11H. Ketika itu beliau berusia enam puluh tiga tahun lebih empat hari.
Para Sahabat Berduka Cita
Berita duka telah merebak, dan seluruh penjuru Madinah tampak suram. Anas berkata, “Aku belum pernah melihat suatu yang lebih baik dan lebih bercahaya dari hari ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke tempat kami; dan aku belum pernah melihat suatu hari yang lebih buruk dan lebih suram dari hari ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat. (Shahihul Bukhari II:641)
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, Fathimah berkata, “wahai ayah, do’amu telah dikabulkan oleh Rabb. Wahai ayah, surga Firdaus-lah tempat kembalimu. Wahai Ayah, kepada Jibril, kami memberitahukan tentang wafatmu. (Shahihul Bukhari II:641)
Sikap Umar
Berita tentang wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah membuat Umar Ibnul Khaththab hilang kesadaran. Dia berdiri seraya berkata, “Orang-orang munafiq mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak wafat, tetapi beliau pergi menghadap Rabbnya sebagaimana kepergian Musa bin Imran. Musa pernah pergi meninggalkan kaumnya selama empat puluh malam, lalu kembali kepada mereka setelah dikatakan bahwa dia telah meninggal dunia. Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pasti akan kembali, dan beliau pasti akan memotong tangan dan kaki orang-orang yang mengatakan bahwa beliau telah meninggal dunia. (Ibnul Hisyam II:655)
Sikap Abu Bakr
Abu Bakr tiba dengan mengendarai kuda dari tempat tinggalnya di Sanah. Setelah turun dari kudanya, ia langsung memasuki masjid menuju tempat kediaman A’isyah tanpa berbicara dengan orang-orang. Dia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang ditutupi dengan kain. Dia menyngkap kain yang menutupi wajah beliau, lalu mencium dan menangis. Setelah itu, ia berkata , ‘Allah tidaklah menghimpun dua kematian pada diri engkau. Sedangkan kematian yang telah Allah taqdirkan terhadap engkau sekarang telah engkau rasakan.’
Lalu, Abu Bakr keluar, sementara Umar berbicara kepada orang-orang. Abu Bakr berkata kepada Umar, ’Wahai Umar, duduklah !’ Namun, Umar tidak mau duduk. Orang-orang pun mendekati Abu Bakr dan meninggalkan Umar. Abu Bakr berkata :
‘Barang siapa di antara kalian menyembah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barang siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak mati. Allah berfirman:
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnyabeberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka dia tidak mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur (Ali Imran:144) “
Ibnu Abbas berkata, “Demi Allah, orang-orang seakan-akan belum mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat ini, sebelum Abu Bakr membacakannya. Orang-orang pun menerima ayat tersebut dari Abu Bakr. Tak seorang pun yang mendengar ayat tersebut melainkan membacanya”.
Ibnul Musayyib berkata, “Umar berkata, ‘Demi Allah, setelah aku mendengar Abu Bakr membacakan ayat tersebut, aku merasa tidak berdaya, kedua kakiku lemas, sehingga aku terduduk di tanah. Ketika itulah, aku mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal dunia” (Shahihul Bukhari II:640-641)
Mengurus dan Mengubur Jenazah Rasullah
Sebelum jenazah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diurus, timbul perselisihan dalam persoalan khilafah. Dialog dan perdebatan pun terjadi antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar di Saqifah Bani Sa’idah.
Akhirnya, mereka bersepakat untuk mengangkat Abu Bakr sebagai khalifah. Hal ini terjadi sampai menjelang malam, yaitu malam selasa. Sementara itu, jenazah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam belum diurus sampai waktu shubuh. Jasad beliau masih terbujur di tempat tidur ditutupi kain hitam. Pintu rumah ditutup oleh keluarga beliau.
Pada hari selasa, mereka memandikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa membuka pakain beliau. Orang-orang yang memandikan beliau adalah putra al-Abbas, Ali, al-Fadhal dan Qatsam yang keduanya adalah putra al-Abbas, Syagran mantan budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Usamah bin Zaid, dan Aus bin Khauli.
al-Abbas, al-Fadl dan Qatsam adalah yang membolak-balikan jasad beliau, Usamah dan Syaqram adalah yang mengguyur air, Ali membersihkannya, sedangkan Aus memangku beliau
Kemudian, mereka mengkafani jasad beliau dengan tiga lembar kain putih dari bahan katun, tanpa memberi pakaian dans serban (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim; Shahihul Bukhari, I:169, Shahih Muslim I:306)
Mereka pun berselisih tentang tempat pemakaman beliau. Kemudian Abu Bakr berkata. “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Tidaklah seorang Nabi meninggal, kecuali dimakamkan di tempat ia meninggal.”
Abu Thalhah kemudian mengangkat tempat tidur dimana beliau meninggal dunia, lalu menggali dan mebuat liang lahat persis dibawah tempat tidur tersebut.
Orang-orang masuk kamar tersebut secara bergiliran sepuluh-sepuluh, untuk mengshalatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa ada yang menjadi imam. Pertama-tama dari keluarga beliau, kemudian kaum Muhajirin, lalu kaum Anshar. Setalah kaum lelaki, disusul oelh kaum wanita, kemudian ana-anak.
Hal ini terjadi pada selasa secara penuh, sampai masuk malam rabu. Aisyah berkata ’Kami tidak mengetahui pemakaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum kami mendengar suara sekop pada malam rabu, tengah malam’ (Syaik Abdullah an-Najdi, Mukhtashar Siratir Rasul hal. 471)
Tulisan berikutnya akan dipaparkan tentang Bagaimana sesungguhnya Rumah Tangga Nabi…
Komentar terakhir