Nabi Muhammad Kembali Ke Haribaan Ilahi Bagian (II)

Dua Hari atau Sehari Sebelum Wafat
Pada hari Sabtu atau Ahad, Nabi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merasakan sakitnya agak ringan. Kemudian keluar dipapah oleh dua orang laki-laki untuk shalat Zhuhur, sementara Abu Bakr mengimami shalat orang-orang. Ketika melihat beliau, Abu Bakr hendak mundur, namun beliau memberi isyarat agar tidak mundur. Beliau berkata kepada dua orang yang memapahnya, “Dudukkan aku di sampingnya.” Keduanya kemudian mendudukkan beliau di sebelah kiri Abu Bakr, lalu Abu Bakr mengikuti shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan memperdengarkan takbir kepada orang-orang. (Shahihul Bukhari I:98,99)

Sehari Sebelum Wafat
Pada hari Ahad, sehari sebelum wafat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerdekakan budak-budak lelakinya, menshadaqahkan tujuh dinar dari harta yang dimilikinya, dan menghibahkan senjata-senjatanya kepada kaum Muslimin. Pada malam itu, Aisyah meminjam minyak lampu dari tetangganya, sementara baju besi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam digadaikan kepada orang Yahudi senilai tiga puluh sha’ gandum

Hari Terakhir Kehidupan Rasulullah
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa pada hari Senin, ketika kaum muslimin sedang melaksanakan shalat Shubuh –sementara Abu Bakr sedang mengimami mereka — Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menemui mereka, tetapi hanya menyingkap tabir kamar Aisyah dan memperhatikan mereka yang sedang berada di shaf-shaf shalat. Kemudian, beliau tersenyum. Abu Bakr mundur hendak berdiri di shaf , karena dia mengira Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak keluar untuk shalat. Selanjutnya Anas menuturkan bahwa kaum Muslimin hamper terganggu di dalam shalat mereka, karena bergembira dengan keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, beliau memberikan isyarat dengan tangan beliau agar mereka menyelesaikan shalat. Kemudian, beliau masuk kamar dan menurunkan tabir. (Shahihul Bukhari II:640)
Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mendapatkan waktu shalat lagi.
Ketika waktu dluha hamper habis, Nabi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil Fathimah, lalu membisikkan sesuatu kepadanya, dan Fathimah menangis. Kemudian memanggilnya lagi dan membisikkan sesuatu kepadanya, Lalu Fathimah tersenyum. Aisyah berkata, “Setelah itu, kami bertanya kepada Fathimah tentang hal tersebut. Dia menjawab, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membisiki aku bahwa beliau akan wafat, lalu aku menangis. Kemudian, beliau membisiki aku lagi dan mengabarkan bahwa aku adalah orang pertama di antara anggota keluarga beliau yang akan menyusul beliau. Aku pun tersenyum. (Shahihul Bukhari II:638)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengabarkan kepada Fathimah bahwa dia adalah pemimpin kaum wanita semesta alam. (Rahmatan lil’Alamin I:28)
Fathimah melihat penderitaan berat yang dirasakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga dia berkata, “Alangkah berat penderitaan Ayah!” Tetapi, beliau menjawab “Sesudah hari ini, ayahmu tidak akan menderita lagi. (Shahihul Bukhari II:641)
Beliau memanggil Hasan dan Husain, lalu mencium keduanya, dan berpesan agar bersikap baik kepada keduanya. Beliau juga memanggil istri-istri beliau, lalu beliau meberi nasihat dan peringatan kepada mereka.
Sakit beliau semakin parah, dan pengaruh racun yang pernah beliau makan (dari daging yang disuguhkan oleh wanita Yahudi) ketika di Khaibar muncul, sampai-sampai beliau berkata, “Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang telah kumakan ketika di Khaibar. Sekarang saatnya aku merasakan terputusnya urat nadiku karena racun tersebut. (Shahihul Bukhari II:637)
Beliau juga memberi nasihat kepada orang-orang, “(Perhatikanlah) Shalat; dan budak-budak yang kalian miliki!” Beliau menyampaikan wasiat ini hingga beberapa kali. (Shahihul Bukhari II:637)

Saat-saat Terakhir
Tanda-tanda datangnya ajal mulai nampak. Aisyah menyandarkan tubuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke pangkuannya. Dia berkata :
‘Sesungguhnya di antara nikmat Allah yang dikaruniakan kepadaku adalah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat di rumahku, pada hari giliranku, dan dipangkuanku, serta Allah menyatukan antara ludahku dan ludah beliau saat beliau wafat. Ketika aku sedang memangku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abdur Rahman bin Abu Bakr masuk dan di tangannya ada siwak. Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memandanginya, sehingga aku mengerti bahwa beliau menginginkan siwak. Aku bertanya, ‘Kuambilkan siwak itu untukmu ?’ Beliau memberikan isyarat ‘ya’ dengan kepala, lalu kuambilkan siwak itu untuk beliau. Rupanya siwak itu terasa keras bagi beliau, lalu kukatakan, ‘Kulunakkan siwak ini untumu?’ Beliau memberi isyarat “ya” lalu kulunakkan siwak itu. Setelah itu aku menyikat gigi beliau dengan sebaik-baiknya dengan siwak itu. Sementara itu, di hadapan beliau ada bejana yang berisi air, Beliau memasukkan kedua tangannya ke dalam air itu, lalu mengusapkan ke wajah beliau seraya berkata, ‘La ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu ada sekaratnya.’ (shahihul Bukhari II:640)
Seusai bersiwak, beliau mengangkat kedua tangannya atau jarinya-jarinya, mengarahkan pandangan ke langit-langit, dan kedua bibirnya bergerak-gerak. Aisyah mendengarkan apa yang beliau katakana itu, beliau berkata:
“Ya Allah ampunilah aku; rahmatilah aku; dan pertemukanlah aku dengan Kekasih Yang Maha Tinggi. Ya Allah, Kekasih Yang Maha Tinggi” (ad-Darimi; Misykatul Mashabih, II:547)
Beliau mengulang kalimat terakhir tersebut sampai tiga kali lalu tangan beliau lunglai dan beliau kembali kepada Kekasih Yang Maha Tinggi. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Peristiwa ini terjadi ketika waktu dhuha sedang memanas, yaitu pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal Tahun 11H. Ketika itu beliau berusia enam puluh tiga tahun lebih empat hari.

Para Sahabat Berduka Cita
Berita duka telah merebak, dan seluruh penjuru Madinah tampak suram. Anas berkata, “Aku belum pernah melihat suatu yang lebih baik dan lebih bercahaya dari hari ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke tempat kami; dan aku belum pernah melihat suatu hari yang lebih buruk dan lebih suram dari hari ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat. (Shahihul Bukhari II:641)
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, Fathimah berkata, “wahai ayah, do’amu telah dikabulkan oleh Rabb. Wahai ayah, surga Firdaus-lah tempat kembalimu. Wahai Ayah, kepada Jibril, kami memberitahukan tentang wafatmu. (Shahihul Bukhari II:641)

Sikap Umar
Berita tentang wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah membuat Umar Ibnul Khaththab hilang kesadaran. Dia berdiri seraya berkata, “Orang-orang munafiq mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak wafat, tetapi beliau pergi menghadap Rabbnya sebagaimana kepergian Musa bin Imran. Musa pernah pergi meninggalkan kaumnya selama empat puluh malam, lalu kembali kepada mereka setelah dikatakan bahwa dia telah meninggal dunia. Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pasti akan kembali, dan beliau pasti akan memotong tangan dan kaki orang-orang yang mengatakan bahwa beliau telah meninggal dunia. (Ibnul Hisyam II:655)

Sikap Abu Bakr
Abu Bakr tiba dengan mengendarai kuda dari tempat tinggalnya di Sanah. Setelah turun dari kudanya, ia langsung memasuki masjid menuju tempat kediaman A’isyah tanpa berbicara dengan orang-orang. Dia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang ditutupi dengan kain. Dia menyngkap kain yang menutupi wajah beliau, lalu mencium dan menangis. Setelah itu, ia berkata , ‘Allah tidaklah menghimpun dua kematian pada diri engkau. Sedangkan kematian yang telah Allah taqdirkan terhadap engkau sekarang telah engkau rasakan.’
Lalu, Abu Bakr keluar, sementara Umar berbicara kepada orang-orang. Abu Bakr berkata kepada Umar, ’Wahai Umar, duduklah !’ Namun, Umar tidak mau duduk. Orang-orang pun mendekati Abu Bakr dan meninggalkan Umar. Abu Bakr berkata :
‘Barang siapa di antara kalian menyembah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barang siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak mati. Allah berfirman:
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnyabeberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka dia tidak mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur (Ali Imran:144) “
Ibnu Abbas berkata, “Demi Allah, orang-orang seakan-akan belum mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat ini, sebelum Abu Bakr membacakannya. Orang-orang pun menerima ayat tersebut dari Abu Bakr. Tak seorang pun yang mendengar ayat tersebut melainkan membacanya”.
Ibnul Musayyib berkata, “Umar berkata, ‘Demi Allah, setelah aku mendengar Abu Bakr membacakan ayat tersebut, aku merasa tidak berdaya, kedua kakiku lemas, sehingga aku terduduk di tanah. Ketika itulah, aku mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal dunia” (Shahihul Bukhari II:640-641)

Mengurus dan Mengubur Jenazah Rasullah
Sebelum jenazah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diurus, timbul perselisihan dalam persoalan khilafah. Dialog dan perdebatan pun terjadi antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar di Saqifah Bani Sa’idah.
Akhirnya, mereka bersepakat untuk mengangkat Abu Bakr sebagai khalifah. Hal ini terjadi sampai menjelang malam, yaitu malam selasa. Sementara itu, jenazah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam belum diurus sampai waktu shubuh. Jasad beliau masih terbujur di tempat tidur ditutupi kain hitam. Pintu rumah ditutup oleh keluarga beliau.
Pada hari selasa, mereka memandikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa membuka pakain beliau. Orang-orang yang memandikan beliau adalah putra al-Abbas, Ali, al-Fadhal dan Qatsam yang keduanya adalah putra al-Abbas, Syagran mantan budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Usamah bin Zaid, dan Aus bin Khauli.
al-Abbas, al-Fadl dan Qatsam adalah yang membolak-balikan jasad beliau, Usamah dan Syaqram adalah yang mengguyur air, Ali membersihkannya, sedangkan Aus memangku beliau
Kemudian, mereka mengkafani jasad beliau dengan tiga lembar kain putih dari bahan katun, tanpa memberi pakaian dans serban (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim; Shahihul Bukhari, I:169, Shahih Muslim I:306)
Mereka pun berselisih tentang tempat pemakaman beliau. Kemudian Abu Bakr berkata. “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Tidaklah seorang Nabi meninggal, kecuali dimakamkan di tempat ia meninggal.”
Abu Thalhah kemudian mengangkat tempat tidur dimana beliau meninggal dunia, lalu menggali dan mebuat liang lahat persis dibawah tempat tidur tersebut.
Orang-orang masuk kamar tersebut secara bergiliran sepuluh-sepuluh, untuk mengshalatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa ada yang menjadi imam. Pertama-tama dari keluarga beliau, kemudian kaum Muhajirin, lalu kaum Anshar. Setalah kaum lelaki, disusul oelh kaum wanita, kemudian ana-anak.
Hal ini terjadi pada selasa secara penuh, sampai masuk malam rabu. Aisyah berkata ’Kami tidak mengetahui pemakaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum kami mendengar suara sekop pada malam rabu, tengah malam’ (Syaik Abdullah an-Najdi, Mukhtashar Siratir Rasul hal. 471)

Tulisan berikutnya akan dipaparkan tentang Bagaimana sesungguhnya Rumah Tangga Nabi…

Nabi Muhammad Kembali Ke Haribaan Ilahi Bagian (I)

Tanda Tanda Perpisahan
Takkala da’wah Islam telah sempurna dan Islam tenlah menguasai keadaan, tanda-tanda perpisahan dengan kehidupan dan orang-orang yang hidup di dunia muali nampak pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal itu tampak jelas dari ungkapan-ungkapan dan perbuatan-perbuatan beliau.
Pada bulan Ramadhan tahun 10H, beliau melakukan i’tikaf selama dua puluh hari, sedangkan pada tahun-tahun sebelumnya beliau hanya melakukan selama sepuluh hari. Pada tahun itu pula Jibril datang dua kali untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada beliau. Pada waktu haji wada’, beliau berkata :
‘sesungguhnya aku tidak mengetahui secara pasti, boleh jadi aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian setelah tahun ini, di tempat ini, selamanya’
Ketika berada di Jumrah Aqabah, beliau berkata ‘Ambillah dariku manasik kalian. Boleh jadi, aku tidak dapat melakukan haji lagi setelah tahun ini’. Pada pertengahan hari-hari tasyriq, turun surat an-Nashr kepada beliau, sehingga beliau mengetahui bahwa itu merupakan tanda perpisahan bagi diri beliau.
Pada awal bulan Shafar tahun 11H., Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pergi ke Uhud, lalu beliau mengshalati syuhada’ Uhud sebagai tanda perpisahan bagi orang-orang yang hidup dan yang meninggal kemudian, beliau beranjak menuju mimbar seraya berkata :’
“sesungguhnya aku mendahului kalian, dan aku menjadi saksi atas kalian. Demi Allah, sungguh aku melihat telagaku, sekarang ini. Sesungguhnya aku telah diberi kunci-kunci perbendaharaan dunia. Demi Allah, aku tidak khawatir kalian menjadi musyrik sepeninggalku, tetapi aku khawatir kalian akan berlomba-lomba memperebutkan dunia.” (Shahihul Bukhari II 585)
Pada suatu pertengahan malam, beliau pergi ke Baqi’, lalu memintakan ampunan untuk orang-orang yang dikubur ditempat itu. Beliau berkata, “Salam sejahtera kepada kalian wahai penghuni kubur. Semoga diringankan (siksa) atas kalian karena dosa yang pernah kalian lakukan, sebagaimana apa yang telah dilakukan oleh manusia. Fitnah datang seperti gumpalan-gumpalan malam yang gelap, silih berganti; yang akhir lebih buruk dari yang pertama.’ Beliaupun memberi kabar gembira kepada mereka dengan mengatakan, ‘Sesungguhnya kami akan menyusul kalian”.

Permulaan Sakit
Pada hari senin tanggal 29 Shafar tahun 11H., Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadiri pemakaman jenazah di Baqi’. Dalam perjalanan pulang dari Baqi’, beliau merasakan sakit kepala dan suhu badannya naik. Karena suhu badan beliau sangat tinggi, orang-orang dapat mengetahui tandanya dari urat nadi yang dibagian kepala beliau.
Beliau sakit selama tiga belas atau empat belas hari dan selama sebelas hari masa sakitnya itu, beliau tetap mengimami shalat.

Pekan Terakhir
Sakit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertambah parah, sampai-sampai beliau bertanya kepada istri-istrinya, “Dimana giliran saya besok? DImana giliran saya besok?’. Istri-istri beliau memahami apa yang beliau maksudkan itu. Mereka memberi izin kepada beliau untuk berada dimana saja yang beliau inginkan. AKhirnya beliau memilih untuk berada dirumah Aisyah. Beliau berpindah ke rumah Aisyah dipapah oleh al-Fadlal bin Abbas dan Ali bin Abu Thalib dengan kepala dalam keadaan terikat, sampai memasuki rumah Aisyah. Beliau berada di sisi Aisyah pada pekan terakhir dari kehidupannya.
Sementara itu, Aisyah selalu membacakan mu’awidzat dan doa-doa yang dihapalnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu dia tiupkan ke tubuh beliau, dan mengusap-usapnya dengan tangan beliau untuk mengharapkan barakah.

Lima Hari Sebelum Wafat
Pada hari Rabu, lima hari sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, suhu badan beliau meningkat dan sakit beliau bertambah parah. Beliau berkata, ‘Guyurlah aku dengan tujuh qirbah air sumur manapun, karena aku ingin keluar berbicara kepada mereka’. Mereka mendudukkan beliau ditempat mandi, lalu mengguyurnya air di tubuh beliau, hingga beliau berkata, ‘Cukup cukup!.’
Setelah diguyur, beliau merasa ringan, lalu masuk ke dalam masjid dengan kepala diikat, hingga duduk diatas mimbar dan berbicara kepada orang-orang. Sementara orang-orang berkumpul di sekeliling beliau. Beliau berkata:
“Laknat Allah semoga tertimpa kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani; mereka telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid” (Shahihul Bukhari I:62)
“Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah.” (Muwaththa ‘Imam Malik, Halaman 65)
Beliau menawarkan diri untuk diqishash dengan mengatakan:
“Barangsiapa pernah kupukul punggungnya, maka inilah punggungku, silakan membalas. Barangsiapa kehormatannya pernah saya cela, maka inilah kehormatanku, silakan membalasnya.”

Kemudian, beliau turun dari mimbar dan melakukan shalat Zhuhur. Seusai shalat Zhuhur, beliau kembali lagi kemimbar dan duduk diatasnya, lalu berbicara lagi mengulang apa yang telah beliau katakana serta berbicara yang lain. Ketika itu, ada seseorang yang berkata, ‘Engkau masih memiliki tanggungan terhadapku tiga dirham.’ Kemudian, beliau berkata, ‘Berikan kepadanya, wahai Fadlal.’ Setelah itu, beliau memberi nasihat agar memperhatikan orang-orang Anshar, beliau berkata:
“Aku berwasiat kepada kalian agar memperhatikan orang-orang Anshar, karena mereka adalah pendukung para pendukung dan pemegang rahasiaku. Mereka telah menunaikan kewajiban mereka, dan hak mereka masih ada. Maka, terimalah orang yang berbuat baik diantara mereka dan maafkanlah orang yang berbuat kesalahan diantara mereka.” Di dalam riwayat lain disebutkan, “sesungguhnya manusia bertambah banyak, sedangkan orang-orang Anshar semakin sedikit, sehingga mereka seperti garam yang ada didalam makanan. Barangsiapa di antara kalian menangani suatu urusan yang merugikan atau atau memberi manfaat kepada seseorang, maka terimalah orang yang berbuat baik dari merekadan maafkanlah orang yang berbuat buruk dari mereka”. (Shahihul Bukhari I:536)
Kemudian, beliau berkata, “Sesungguhnya ada seorang hamba diberi pilihan oleh Allah, yaitu diberi kemewahan dunia sesuai apa yang dikehendaki-Nya atau diberi apa yang ada di sisi-Nya, lalu dia memilih apa yang ada di sisi-Nya.”
Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Mendengar ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu, Abu Bakr menangis, dan dia berkata, ‘Kami tebus engkau dengan bapak-bapak dan ibu-ibu kami.’ Kami pun merasa heran kepadanya, sehingga orang-orang berkata, ‘Lihatlah orang tua ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mengabarkan tentang seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kemewahan dunia menurut apa yang di kehendaki-Nya atau diberi apa yang ada di sisi-Nya, lalu dia berkata , ‘Kami tebus engkau dengan bapak-bapak dan ibu-ibu kami.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang diberi pilihan tersebut, sedangkan Abu Bakr adalah orang yang paling mengetahui di antara kami (Bukhari dan Muslim; Misykatul Mashabih II:546)
Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sesungguhnya orang yang paling bermurah hati kepadaku dalam harta dan persahabatannya adalah Abu Bakr. Seandainya aku hendak mengangkat orang sebagai khalil (teman kesayangan) selain Rabbku, niscaya aku mengangkat Abu Bakr sebagai khalilku. Namun persaudaraan Islam (adalah lebih baik). Semua pintu di masjid haus ditutup, kecuali pintu Abu Bakr. (Bukhari dan Muslim Misykatul Mashabih II:548)

Empat Hari Sebelum Wafat
Pada hari kamis, empat hari sebelum wafat sakit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertambah serius, beliau berkata, “kemarilah, aku akan menuliskan untuk kalian wasiat yang kalian tidak akan sesat sesudahnya.” Saat itu, di rumah ada beberapa orang, dan di antara mereka adalah Umar bin al-Khaththab. Umar pun berkata, “Beliau terpengaruh oleh sakitnya. Di sisi kalian sudah ada Al-Qur’an. Cukuplah bagi kalian Kitab Allah.” Maka timbullah perselisihan di antara orang-orang di dalam rumah itu. Di antara mereka ada yang berkata, “Mendekatlah kalian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamakan menuliskan suatu wasiat buat kalian.” Di antara mereka juga ada yang berpendapat seperti apa yang dikatakan oleh Umar. Mendengar perselisihan bertambah sengit dan bertambah gaduh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Menyingkirlah kalian dari sini!” (Bukhari dan Ummul Fadl, Bab Maradlum Nabi II:637)
Pada hari itu, beliau memberikan tiga wasiat, yaitu:
Pertama, agar mengeluarkan orang-orang Yahudi dan Nasrani dari jazirah Arab. Kedua, agar memberi hadiah kepada para utusan sebagaimana yang beliau lakukan, sedangkan yang ketiga, pirawi hadits ini lupa. Boleh jadi, beliau berwasiat agar melaksanakan pengiriman pasukan Usamah, atau juga berpesan agar memperhatikan shalat dan budak-budak yang dimiliki.
Meskipun sakit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam cukup parah, beliau masih mengimami seluruh shalat sampai hari itu, yaitu hari Kamis, empat hari sebelum wafat. Pada hari itu, beliau mengimami shalat Maghrib dan membaca surat al-Mursalat. (Bukhari dan Muslim ; Misykatul Mashabih I :102)
Ketika Isya’ sakit beliau bertambah parah, sehingga beliau tidak dapat keluar ke mesjid. Aisyah menuturkan:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Kami menjawab, ‘Belum, wahai Rasulullah. Mereka menunggu Engkau. ‘Beliau berkata, ‘Letakkan air untukku di tempat mandi.’ Kami pun melaksanakan perintah beliau itu, lalu beliau mandi.’ Seusai mandi, beliau hendak bangkit, namun beliau tidak sanggup dan pingsan. Setelah siuman, beliau bertanya, ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Beliau mandi dan pingsan seperti ini terulang sampai tiga kali. Setelah tidak sanggup bangkit, beliau mengirim utusan kepada Abu Bakr agar ia mengimami shalat. Pada saat itu, Abu Bakr mengimami shalat (Shahihuh Bukhari I:99) sebanyak tujuh belas shalat ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup
Aisyah meminta Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai tiga atau empat kali untuk tidak menjadikan Abu Bakr sebagai imam shalat, agar orang-orang tidak jemu. Namun, beliau tetap menolak seraya berkata, “Kalian ini memang seperti saudara-saudara Yusuf. Perintahkan Abu Bakr untuk mengimamishalat jama’ah.

…… Dua hari atau Sehari Sebelum Wafat dan Hari Terakhir kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Para Sahabat berduka Cita, Mengurus dan Mengubur Jenazah Rasulullah.
Bersambung… di bagian II

Algoritma baru teknik pencarian di google (caffeine)

Mungkin saat ini para pakar algoritma pencarian dan pengindeksan data masih bekerja untuk memperbaiki terus algoritma yang akan menggantikan algoritma yang sudah cukup lama digunakan pada google, proyek rahasia yang dikerjakan oleh para pakar tersebut yakni membangun sebuah arsitektur generasi berikutnya untuk pencarian Web Google. Ini adalah langkah pertama dalam proses yang akan membiarkan kita mendorong amplop pada ukuran, pengindeksan kecepatan, ketepatan, kelengkapan dan dimensi lain. Infrastruktur baru duduk “di bawah tenda” dari mesin pencari Google, yang berarti bahwa sebagian besar pengguna tidak akan melihat perbedaan dalam hasil pencarian. Tapi web developer dan pencari kekuasaan mungkin melihat beberapa perbedaan.
Algoritma yang baru tersebut bernama Caffeine dapat dicoba pada alamat http://www2.sandbox.google.com , bagaimana cara kerja dan kemampuan algoritma baru ini dapat untuk sementara dapat kita uji pada web , yang pasti ini merupakan sebuah langkah maju untuk menentukan algoritma masa depan.
Berikut saya mencoba mencari informasi mengenai blog saya yang baru sekitar 3 bulan saya aktifkan yakni sejak bulan juli 2009 saya aktifkan, adapun keyword yang saya masukkan adalah “lapodding” berikut hasilnya dan anda semoga anda dapat melihat perbedaan dari hasil yang ditampilkan dilayar:
1. pada http://www.google.co.id
http://www.google.co.id/#hl=id&source=hp&q=lapodding&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq=lapodding&fp=7de3bde004b2b038

hasilnya: Urutan 1 – 10 dari sekitar 307 hasil telusur untuk lapodding. (0.15 detik)
• SYARIFUDDIN
Ditandai:Idul Fitrih, lapodding, megadata, perang bad’r, Ramadham, Shaum, ….. Oleh lapodding pada Komputer. Ditandai:Syarifuddin, lapodding, megadata, …
lapodding.wordpress.com/ – Tembolok – Mirip
• 2009 Juli « SYARIFUDDIN
Ditandai:agama islam, hakekat ilmu, ilmu para nabi, kenabian, Kisah Nabi Khidir, Kisah Nabi Musa, lapodding, megadata, Tolitoli. Tinggalkan sebuah Komentar …
lapodding.wordpress.com/2009/07/ – Tembolok – Mirip

Tampilkan hasil lainnya dari lapodding.wordpress.com
• Syarifuddin (lapodding) on Twitter
Hey there! lapodding is using Twitter. … Name Syarifuddin; Location Tolitoli; Web http://lapodding…. Bio Anak Kampung. …
twitter.com/lapodding – Tembolok – Mirip
• syarifuddin (lapodding) – Identi.ca
– [ Terjemahkan laman ini ]
28 Sep 2009 … lapodding has an account on Identi.ca, a micro-blogging service based on the Free Software StatusNet tool. Join now to follow lapodding’s …
identi.ca/lapodding – Tembolok – Mirip
• syarifuddin (lapodding) ’s status on Monday, 28-Sep-09 02:55:29 …
– [ Terjemahkan laman ini ]
syarifuddin (lapodding) ’s status on Monday, 28-Sep-09 02:55:29 UTC. syarifuddin lapodding. tes saja. about 4 hours ago from web. Secondary site navigation …
identi.ca/notice/10876110 – Tembolok – Mirip

2. pada http://www2.sandbox.google.com
http://www2.sandbox.google.com/#hl=id&source=hp&q=lapodding&btnG=Telusuri+dengan+Google&lr=&aq=f&oq=lapodding&fp=17eb41675d17a823
hasilnya: Urutan 1 – 10 dari sekitar 280 hasil telusur untuk lapodding. (0,18 detik)
• SYARIFUDDIN
Ditandai:Idul Fitrih, lapodding, megadata, perang bad’r, Ramadham, Shaum, ….. Oleh lapodding pada Komputer. Ditandai:Syarifuddin, lapodding, megadata, …
lapodding.wordpress.com/ – Tembolok – Mirip
• 2009 Juli « SYARIFUDDIN
Ditandai:agama islam, hakekat ilmu, ilmu para nabi, kenabian, Kisah Nabi Khidir, Kisah Nabi Musa, lapodding, megadata, Tolitoli. Tinggalkan sebuah Komentar …
lapodding.wordpress.com/2009/07/ – Tembolok – Mirip

Tampilkan hasil lainnya dari lapodding.wordpress.com
• Syarifuddin (lapodding) on Twitter
Hey there! lapodding is using Twitter. … Name Syarifuddin; Location Tolitoli; Web http://lapodding…. Bio Anak Kampung. …
twitter.com/lapodding – Tembolok – Mirip
• syarifuddin (lapodding) – Identi.ca
– [ Terjemahkan laman ini ]
lapodding has an account on Identi.ca, a micro-blogging service based on the Free Software StatusNet tool. Join now to follow lapodding’s notices and many …
identi.ca/lapodding – Tembolok – Mirip
• lapodding timeline
Updates from lapodding on Identi.ca! lapodding: tes saja lapodding’s status on Monday, 28-Sep-09 02:55:29 UTC tes saja.
identi.ca/lapodding/rss – Tembolok – Mirip

Nah dari result query tersebut nampak sekali perbedaan yang dihasilkan baik mengenai waktu, jumlah yang dihasilkan terutama susunan web / url yang dihasilkan serta posisi waktu penulisan / updating data tersebut.
Kesimpulan sementara bahwa algoritma caffeine akan menemukan web/url terbaru yang di update dibanding dengan algoritma yang lama dari google.com
Semoga bermanfaat.